Dekan Fakultas Psikologi Undip, Dian
Ratna Sawitri SPsi MSi PhD, mengatakan potensi gangguan psikologis perlu
mendapat perhatian khusus. Apalagi
disaat terjadinya wabah atau
pandemi Covid-19 yang menuntut terjadinya perubahan perilaku di masyarakat,
potensial menyebabkan gangguan psikologis yang serius dan mengancam
produktivitas masyarakat.
Sebagai gambaran positif
Covid-19 di Indonesia sampai Kamis (10/12/2020) mencapai 598.033 kasus, dan
jumlah orang terinfeksi di dunia sebanyak 69 juta orang, dengan angka kematian
1,5 juta lebih mendorong Badan Kesehatan Dunia, WHO mengumumkan situasi darurat
kesehatan masyarakat secara internasional. Konsekuensinya, terjadi pembatasan
social seperti kegiatan sekolah dan universitas berubah menjadi study
from home, dibatasinya aktivitas perkantoran menjadikan munculnya work
from home. Juga kebijakan penutupan tempat hiburan dan pariwisata yang
berpengaruh pada melonjaknya pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja. Awalnya masyarakat dapat
menerima pembatasan, bersabar dan berharap keadaan segera pulih.Namun, ketika
situasi wabah menjadi berkepanjangan, masyarakat gelisah hingga muncul beragam
gangguan psikologis yang bisa dikelompokkan dalam tiga pola.
Pola pertama, protective
behavior, adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memenuhi aturan
kesehatan dalam rangka menghentikan penyebaran penyakit. Protective behavior mencakup personal hygiene dan social distancing. Personal
hygiene diwujudkan berupa tindakan seperti menggunakan masker, mencuci
tangan, menghindari makan di luar rumah, menyemprot desinfektan, memastikan
kecukupan ventilasi udara di dalam ruangan. Sedangkan social
distancing dilakukan dengan menjaga jarak untuk menghambat penyebaran
virus, menghindari kerumunan dan menunda bepergian.Dalam konteks
tertentu, social distancing juga diwujudkan dalam tindakan
melakukan karantina mandiri ketika menyadari bahwa dirinya berinteraksi dengan
suspek dan/atau pihak yang terinfeksi Covid-19 atau karena baru melakukan
perjalanan jauh menggunakan angkutan umum. Pembatasan hubungan sosial dan
karantina dapat menimbulkan berkurangnya aktivitas fisik, munculnya perasaan
sedih, terisolasi, bosan dan kesepian. Akhirnya membuat meningkatnya
prevalensi depresi, konsumsi alkohol dan obat-obat terlarang, adiksi atau
kecanduan internet, dan kekerasan dalam rumah tangga. Penerapan work from
home juga bukan hal yang sederhana. Diperlukan penyesuaian dengan
situasi dan penghuni rumah. Apalagi bagi yang memiliki anak usia sekolah,
melakukan pendampingan terhadap anak yang sedang menghadapi situasi belajar
yang baru sembari melakukan pekerjaan dari rumah sekaligus tak jarang
membuat over exhausted(teler) dan tertekan.
Perubahan perilaku
kedua, preparedness behavior, yaitu perilaku yang ditujukan untuk
memastikan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan individu untuk dapat
melakukan respon yang tepat dalam rangka menghambat dan menghentikan penyebaran
virus. Misalnya mencari informasi yang relevan tentang distribusi kasus, jumlah
orang yang terinfeksi, intervensi yang telah dilakukan pemerintah,
membeli hand sanitizer, masker, face shield, serta
kebutuhan sehari-hari.
Diingatkan, mencari
informasi seputar pandemic adakalanya membuka peluang munculnya kebingungan,
ketidakpastian, dan kegelisahan.Reaksi menjadi serius pada individu yang
memiliki kepribadian pencemas, apalagi yang telah memiliki gangguan psikologis
terkait kecemasan seperti takut terinfeksi virus, takut berkontak dengan objek
yang diduga dapat menularkan virus, takut terhadap orang asing. Akan muncul
perilaku kompulsif seperti cuci tangan yang berlebihan, selalu membersihkan
benda-benda yang akan disentuh, dan menyemprotkan disinfektan meski kondisi
biasa.
Perubahan perilaku ketiga
yang disebut perverse behavior adalah perilaku yang berbeda
dari yang dianggap normal oleh masyarakat, seperti menghindari kunjungan ke
rumah sakit dan terobsesi membeli obat-obat anti virus sendiri.Dekan Psikologi Undip
mengatakan agar ada penanganan khusus terhadap perubahan perilaku dan kondisi
sosial akibat pandemi Covid-19. Perlu dilakukan mitigasi pengaruh pandemic
terhadap kesehatan mental masyarakat.
Sumber : undip.ac.id
#undip
#universitasdiponegoro
#diponegorouniversity
#undipexcellent
#worldclassuniversity
#undipjaya
#undipmaju
#umundip
#undipsemarang
0 komentar:
Posting Komentar